Senin, 07 Januari 2013

BOEROEH TANI NAIK KERETA API

DARI ST SUMOBITO KE SURABAYA,

Tentu orang tua manapun  kepengin melihat anaknya yang telah berhasil , dari hijrah tempat tinggal meninggalkan desanya  ke Surabaya, diikuti dengan hijrah profesi dari buruh tani menjadi buruh outsorcing membersihkan kota  (bagian nyapu jalanan kota), nah kalau nyarter mobil tentu nggak mampulah , satu satunya jalan ya naik kereta api super ekonomi Rapih Dhoho Rp 4.000,- sampai deh di Surabaya
Memang managemen KAI kelihatannya berhasil memberikan pelayanan yang cukup baik , tidak ada calo , nama penumpang tertera di karcisnya , masuk statiun  identitas diri dicek petugas sesuai nggak dengan KTP nya kayak periksa Boarding Pass - tapi inilah kisahnya kalau naik kereta api super ekonomi.

KA RAPIH DHOHO.
Kereta api ekonomi Rapih Dhoho berangkat dari Blitar ke Surabaya lewat Kertosono, kalau beli karcis di station Sumobito , karcisnya selembar tanpa identitas penumpang dan tanpa nomor gerbong apalagi nomer tempat duduk, jumlah pembeli karcis unlimited , berapapun dilayani, nah setelah kereta berangkat di station Mojokerto ada penumpang baru yang naik, di Mojokerto karcis dijual dengan nomor gerbong dan no tempat duduk, masalahnya tempat duduk sudah diduduki penumpang yang berkarcis bebas, masak mau berantem, hal yang sama pada saat naik kereta Dhoho dari station Jombang diberikan karcis dengan nomer gerbong dan nomer tempat duduk, tetapi sebelum station Jombang kereta api menaikkan penumpang dari station Sembung yang karcisnya bebas tanpa no gerbong dan nomer tempat duduk, kebetulan nomer kursi saya sudah diduduki penumpang dari station Sembung, nggak apalah.

Penjual asongan kelelahan
Pedagang pasar wonokromo - kepanasen dalam kereta sampe ngantuk ngantuk 
Nasi pecel Rp 2.000,- kalau onde onde Rp 500,- semua bisa di beli diatas kereta.



Rp 4.000 kok minta duduk , tapi sebenarnya mereka tidak membayar Rp 4.000,- karena 
PT KAI mendapat dana dari negara.



Persoalannya ternyata sangat sederhana – managemen PT KAI belum pernah mencoba naik kereta api klas ekonomi sehingga beberapa persoalan kurang dipahami dan mendapat perhatian , kelihatannya lebih terfokus pada kereta api klas Bisnis dan Executive. tapi bagiamanapun maju terus PT KAI - karena nggak ada lagi operator KA di Indonesia selain dikau, saya buruh tani hanya usul jual karcis ka ekonomi jarak dekat tanpa nomor tempat duduk karena banyak penumpang klas ekonomi yang memerlukan , nggak apalah berdiri satu dua jam, itu sudah habitatnya sejak dulu, perubahan yang dilakukan saat ini bukan memberikan nilai tambah tetapi lebih menyusahkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar